Medan Zona Merah, Jangan Kendor Berdoa Gunakan Prokes

Kota Medan kembali di posisi zona  merah atau wilayah dengan risiko tinggi penularan COVID-19, dari sebelumnya berada di zona oranye atau risiko sedang.

Status ini dilaporkan berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 yang dikeluarkan pada Kamis sore (24/6) seperti dikutip dari situs resmi Satgas Penanganan Covid-19 Pusat di Jakarta.

Terkait hal itu, Wakil Ketua Umum MUI Sumut yang juga Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN SU, Dr. H. Ardiansyah Lc (foto), Jumat (25/6) mengimbau umat Islam agar tidak kendor dalam berdoa dan tidak kendor untuk prokes.

“Mari kita terus melaksanakan Doa Tolak Bala (Qunut Nazilah).

Jangan  kendor berdoa, demikian juga jangan kendor mematuhi prokes. Yakinlah, usaha tidak pernah mengkhianati hasil,”ungkapnya.

Sebab, kata dia, jika kita tilik lebih jauh,kerusakan dan bencana yang terus mendera bumi ini merupakan buah dari sikap tamak terhadap harta dan jabatan. Berlomba lomba mengeksploitasi alam untuk kepentingan diri sendiri.

Jadi, terjadinya kerusakan di muka bumi ini karena ulah rakus manusia itu sendiri. Hal ini juga telah diperingatkan Allah dlm firman-Nya sebagai berikut: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,”(QS. Ar-Ruum: 41).

Untuk itu, kata dia, sudah selayaknya untuk berdoa dan tidak putus asa atas musibah ini, sehingga kita terus memperbanyak doa, utamanya agar pandemi covid-19 ini berakhir dengan tuntas.
Takdir

Hal lain disampaikannya, wafat itu adalah takdir, bukan karena akibat serangan Covid-19 semata. Sehingga, peluang wafat bagi setiap orang tetap ada.

Kehawatiran kematian akibat lonjakan kasus Pandemi Covid-19 memang terus mengemuka, sehingga asumsi yang berkembang wafatnya seseorang akibat covid bukan karena takdir.

“Asumsi ini perlu diluruskan.Karena kematian bukan akibat covid semata,” sebutnya.

Kata dia, kelahiran dan kematian seseorang merupakan suratan takdir dari Allah SWT yang telah ditetapkan sejak janin berusia 120 hari dalam kandungan ibu.

Allah SWT, menitipkan sekaligus mengamanahkan umur kepada hamba-Nya sesuai dengan takdir yang telah ditetapkan-Nya. Sehingga tidak seorangpun yang dapat memajukan waktu kematiannya atau menundanya.

“Penyakit, kecelakaan, peperangan misalnya, hanyalah salah satu sebab yang dapat mengantarkan kepada kematian. Namun, jika kita teliti lebih lanjut, maka kita menemukan lebih banyak yang  sembuh dari sakitnya, lebih banyak yang selamat dalam kecelakaan daripada yang mati, serta lebih banyak yang pulang dari medan perang daripada yang gugur,” ungkapnya.

Perkuat Ibadah

Oleh karena itu, sambung dia, kematian bukanlah momok yang harus ditakuti. Karena setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Namun, kematian haruslah dipersiapkan dengan amal ibadah terbaik dan dengan keimanan yang terbaik.
Dalam Alquran surah Al-Jumu’ah ayat 8 dijelaskan:

“Katakanlah,sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Jadi, sambung Ardiansyah, cara terbaik menjalani kehidupan ini dalam menghadapi berbagai problematikanya termasuk pandemi Covid-19 ini adalah dengan kembali kepada Allah SWT.

Laksanakan perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Seluruh lapisan masyarakat dan pemimpinnya haruslah tunduk dan patuh kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.